GEBANG
SENI BERSAMA MATAHATI ART GROUP DAN GELARAN MIFA
Bertempat
di Rumahykp, pada (SABTU) 28 Februari 2004 jam 3.00 petang. Bersama artis jemputan
dari Matahati Art Group dan MIFA (Pelukis Undangan dari Jogjakarta) Bayu
Utomo Radjikin (MAG) Hamir Soib (MAG) Masnoor Ramli Mahmud (MAG) Ahmad
Shukri Mohamad (MAG) Agus Purnomo (MIFA) Eddy Sulistyo (MIFA) Januri
(MIFA) Yaksa Agus Widodo (MIFA)
Laporan
Gebang Seni Matahati & Mifa Art Foundation Oleh Kurator YKP Sebagai
pembuka tirai 2004, lapan orang pelukis telah mengisi slot Gebang Seni pada 28
Februari 2004. Kumpulan Seni Matahati menampilkan Bayu Utomo Radjikin, Ahmad Shukri
Mohamad, Masnoor Ramli dan Hamir Soib sementara MIFA Foundation dari Jogjakarta
mengetengahkan artis dari kolektif Gelaran Budaya iaitu Yaksa Agus Widodo, Januri,
Eddy Sulistyo dan Agus Purnomo. Gelaran
Budaya muncul pada 31 Disember 1999 hasil inisiatif tujuh orang pelukis muda.
dan hingga kini sentiasa mendapat bimbingan penasihatnya, Taufik Rahzen. GB percaya
kepada penggunaan ruang publik untuk berkesenian samaada dalam konteks visual,
teater, performance dll. Oleh itu, mereka tidak hanya berpameran di satu-satu
tempat tetapi aktif berkerjasama dengan pihak-pihak lain dengan penekanan kepada
ruang-ruang awam atau publik. Selain itu, GB turut berusaha membuat jaringan (networking)
dengan kelompok-kelompok lain demi kemanfaatan seni. Untuk bertahan, penjanaan
wang modal dibuat dengan tiga cara. Pertama, dengan cara mengenakan yuran ahli.
Yuran ini tidak semestinya dalam bentuk monetori tetapi diterima dengan cara menyumbang
karya-karya untuk dijual. Cara kedua, melalui pembelian karya oleh kolektor-kolektor
dan akhirnya sokongan derma oleh simpatisan-simpatisan seni. Cara untuk membalas
budi para penyokong pula ialah dengan memberi laporan dan surat jemputan untuk
setiap program yang membabitkan GB. Antara
isu yang diperbincangkan adalah mengenai trend atau pun keaktifan penubuhan kolektif
dan ruang-ruang independen/alternatif di Indonesia khususnya di Jogjakarta. Menurut
Yaksa, gabungan bersama para artis akan lebih memudahkan pelaksanaan aktiviti-aktiviti
seni di samping mampu memperhebatkan lagi pertukaran ide dan fahaman. Ruang/kumpulan
alternatif yang tumbuh bagai cendawan (kini sudah ada 15 unit yang mantap) juga
adalah hasil daripada kepayahan menembusi tembok galeri-galeri perdana. Dengan
golongan perupa yang kini mencapai lebih 6000 orang, persaingan menjadi hebat
dan untuk mengelakkan sesuatu ide seni basi menunggu ruang untuk dipamerkan, pembinaan
kelompok-kelompok independen menjadi sangat popular di negara jiran itu.
Berlainan pula dengan alasan penubuhan kumpulan Matahati sepuluh tahun lalu.
Menurut Bayu Utomo, kelahiran kumpulan ini adalah atas dasar keakraban sesama
teman yang mempunyai visi dan perjuangan cita-cita yang sama. Alasan untuk sering
mampu berdiskusi sesama sendiri pada awal pembabitan mereka di arena seni menjadi
katalis kesatuan ahli-ahlinya. Selain itu, pendekatan seni masing-masing yang
banyak menyentuh kritikan sosial dan isu-isu yang jarang diketengahkan artis lain,
keghairahan untuk bereksperimental melalui pelbagai media dan genre seni seperti
teater, filem dan sastera, menguatkan lagi penggabungan kumpulan ini.
Selebihnya,
sekitar 50 hadirin Gebang Seni telah ditayangkan dengan sisipan karya-karya oleh
mereka serta berpeluang menerima penerangan tentang konsep, misi dan pengalaman
di sebalik penubuhan kumpulan-kumpulan tersebut. Info
Ekstra Jurnal "KARBON - Ruang Alternatif", Edisi 05/2003, terbitan
Ruang Rupa, Indonesia.
As
starters for year 2004, eight prominent artists were invited for the Gebang Seni(Art
Talk) on the 28th February 2004. Matahati Art Group(Malaysia) were represented
by Bayu Utomo Radjikin, Ahmad Shukri Mohamad, Masnoor Ramli and Hamir Soib whilst
MIFA Foundation from Jogjakarta introduces Yaksa Agus Widodo, Januri, Eddy Sulistyo
and Agus Purnomo from the Gelaran Budaya collective. Gelaran Budaya (GB) was
founded on the 31st December 1999 through initiatives of seven young artists and
up till now is still receiving thorough moral support from one of the founders,Taufik
Rahzen, a respected figure in the Indonesian art scene. GB strongly believes in
the utilisation of public spaces for art presentation whether in the context of
visuals, theater, performances etc. Therefore, they do not carry out exhibitions
in specific spaces per se but are also actively involved with different quarters
while focusing on public spaces. Apart from that, GB also stresses on networking
with other art-based collectives. To be able to sustain, three methods are used
to generate funds for GB. Firstly, by charging fee for its members. This fee does
not have to be in monetory form but contribution of art works for sales are also
welcomed. Second method is through sales of art works to collectors and lastly
through financial support by art sympathisers. To make up for all the contributions,
supporters will be given regular reports and invitations for any programs that
involve GB. Some
of the issues which were discussed focussed on the developmant of art collectives
and independent/alternative spaces especially in Jogjakarta. According to Yaksa,
the unity of artists will make easy execution of art activities and encourages
a much smoother exchange of ideas and beliefs. The mushrooming alternative spaces/groups
(there are now more than 15 established units) is the result of problems faced
by local artists in penetrating the mainstream galleries. With the ascending figures
of more then 6,000 artists to date, competition is very stron. Thus, to avoid
certain art ideas losing their essences while waiting to be exhibited, the building
of independent groups become a popular alternative in that neighbouring country.
The founding of Matahati Art Group carries a different story. Bayu Utomo states
that the birth of this group is with regards to their mutual art understandings
among friends. The notion of generating regular discussions on arts becomes the
catalyst for the grouping of these artists. Apart from that, their eagerness in
experimenting with various genres of art such as theatre, film and literature,
plus their ability to touch on social critics and issues which are not often stressed
by other artists, strengthen the emergence of this group. Lastly,
a slide presentation of art works was shown to approximately 50 of the Gebang
Seni audience. They were also given the opportunity to receive further explaination
on the concept, mission and experiences which instigate the founding of the groups.
Extra information :
Journal
"KARBON - Alternative Spaces", Edition 05/2003, published by Ruang
Rupa, Indonesia. |