GEBANG
SENI JUHARI SAID
Juhari
Said, artis seni cetak tanahair, berkongsi ilmu dan pengalaman tentang kediamannya
'Akal Di Ulu' yang ditubuhkan untuk mempromosi seni melalui eco-tourism. Seramai
40 peserta terlibat. Juhari Said dilahirkan pada 6 Januari 1961 di Gopeng, Perak.
Beliau telah menerima pendidikan seni dari Universiti Teknologi Mara (UiTM) antara
tahun 1979 dan 1983. Sejak awal lagi, Juhari telah cenderung ke arah seni cetak
dan telah menumpukan sepenuh tenaga dan masa kepada aspek seni ini.
Juhari
kini sedang mengembangkan Pusat Seni Malaysia yang dikenali sebagai Akal Di Ulu
yang bermula pada awal tahun 2000. Ia menyediakan persekitaran dan kemudahan-kemudahan
kepada teman-teman seniman seluruh dunia serta kepada para pelajar seni dan diharap
menjadi pusat sumber seni cetak di Malaysia.
Pusat
ini mengambil lebih kurang 30 minit perjalanan dari Kuala Lumpur melalui pepohon
buah-buahan dan kehijauan alam.
PROFIL
JUHARI SAID
Juhari
Said dilahirkan pada 6 Januari 1961 di Gopeng, Perak. Beliau telah menerima pendidikan
seni dari Universiti Teknologi Mara (UiTM) antara tahun 1979 dan 1983.
PAMERAN
/ EXHIBITIONS
Solo
Exhibitions
1999
- Solo exhibition of Woodcut Print, AAI-Galerie Karl Stroble, Vienna, Austria.
1996
- Solo exhibition of Woodcut Print, Miyabi Gallery, Fukuoka, Japan
1995
- Solo exhibition of Woodcut Print, Art Salon, Kuala Lumpur, Malaysia.
1994
- Solo exhibition of Woodcut Print, Yoyogi Gallery, Tokyo, Japan
1988
- Solo exhibition of Woodcut Print, Gallery Le Classique, Kuala Lumpur, Malaysia.
International
Exhibitions
2000
- Millenium Grafica, International Print Exhibition in Yokohama, Japan
- Y2K
International Exhibition of Prints, Chung Cheng Gallery, Taiwan
- Langkawi
International Festival of Arts, Ibrahim Hussein Museum, Langkawi.
1999
- 14th. International Art Exhibition, Fukuoka Art Museum, Japan
- Malaysian
Contemporary Art Exhibition, China Museum of Art, Beijing, China
- The Art
of Printmaking, Art Case Gallery, Kuala Lumpur.
- Arianne-Essor, Galeri Petronas,
Kuala Lumpur.
1998
- 13th. Asian International Art Exhibition, National Art Gallery, Kuala Lumpur
- Expressi Timur Barat, Gallery Casa Cantabria, Madrid, Spain
- Rupa Brunei
Gallery, School of Orient and African Studies, London
- Gema, Visual Echoes,
Gallery Manes, Prague, Czech Republic
· Arianne-Essor Exhibition
· St. John Museum, Lleida, Catalan, Spain
· Palais des Roisde
Majorque, France
1997
- 12th. Asian International Art Exhibition, Center de' Activades Turisticas, Gonzaga,
Macau
- 8th. Asian Art Biennale, Bangladesh
- 8th. Int. Biennale Exhibition
of Potrait Drawing and Graphics Tuzla '97, Bosnia Herzegovina
- Premiere
Triennale Mondiale d' Estampes Petit-Format, Chamelieres, France
- Risalah
dari Malaysia Exhibition
· Germering City Germany
· Medurodna
Galerija Potreta, Tuzla
· Dom Armije Sarajevo, Bosnia Herzegovina
· Umjetnieka Galerija Dubronik, Croatia
1996
- 1st. Malaysian Annual Exhibition of Int. Contemporary Prints, Central Art Gallery,
Kuala Lumpur.
- 11th. Asian International Art Exhibition, Metropolitan Museum
of Manila, the Philippines
- Thai-Malaysian Art Exchange Exhibition, Galeri
Petronas, Kuala Lumpur.
1995
- 5th. Print Kyushu Special Exhibition, Japan Asia Prints Exhibition, Fukuoka,
Japan
- Art Actual, Arianne-Essor, Palais Du Roi de Rome, Rambouillet, France
- 10th. Asian International Exhibition, Singapore Art Museum, Singapore
-
Exposition Art Actuel, Dammary-les Lys Castle, France
- Window to the Tropics,
Gallery Vivant, Ginza, Tokyo, Japan
- The 1995 Asia Prints Exhibition, Kohsiung,
Taiwan, Rep. of China.
1994
- 9th. Seoul International Biennale, Seoul, South Korea
- Premier Trienale
Mondiale d' Estamps Petit-Format, Chamelieres, France
- Malaysian Experience
Through Art, Belum Sanctuary Expedition, National Art Gallery, Malaysia.
1993
- 2nd. Asean Workshop, Symposium & Exhibition on Aesthetics, Manila, the Philippines
- 8th. Asian International Art Exhibition, Fukuoka City Art Museum, Japan
1992
- 6th. Asian International Art Exhibition, Fukuoka, Japan
- 7th. Asian International
Art Exhibition, Bandung, Indonesia.
- Contemporary Asia Print Exhibition,
Muraokaya Gallery, Fukuoka, Japan
- Singapore Art Fair, Jurong, Singapore.
1991
- 5th. International Biennale Print Exhibition 1991, Taipei Fine Art Museum, Republic
Of China
- Asian Art Biennale Bangladesh 1991, Shipakala Art Academy, Bangladesh
- Malaysian Modern Artist's Exhibition, Muraokaya Gallery, Fukuoka, Japan
- Osaka Trienale '91 Osaka, Japan
- Premier Trienale Mondiale d' Estampes
Petit-Format, Chameliere, France
- The 11th. International Print Biennale,
Fine Art Centre, Seoul, South Korea
- Exhibition of Print-Indonesian and Malaysian
Artists, Dacenta Gallery, Indonesia
- 5th. Asian International Art Show, National
Art Gallery, Kuala Lumpur.
1990
- 8+8 Art Exhibition, National Art Museum, Bangkok, Thailand
1989
- 4th. Asian Art Show, Metropolitan Museum of Art Seoul, South Korea
1988
- 3rd. Asian International Art Exhibition, Fukuoka, Japan
Malaysian
Exhibitions
2000
- 10/2000 Ten artists for the new millenium, Art Salon, Bangsar, Kuala Lumpur
1998
- Grafika II, Galeri Maybank, Kuala Lumpur.
1997
- Pameran "Alam, Seni & Perjalanan", Festival Pekan Seni Ipoh II
'97, Ipoh, Perak
1996
- Grafika, Creative Centre, National Art Gallery, Kuala Lumpur.
- Pengucapan
Islam dalam Kesenian, Galeri Petronas, Kuala Lumpur.
1995
- Alternative Printmaking Art Exhibition, Galeri Petronas, Kuala Lumpur
-
Expression '95, Nanyang Gallery of Art, Kuala Lumpur.
1993
- Art Exhibition, Galeri Maybank, Kuala Lumpur.
- Malaysian Art '93 Petronas,
Kuala Lumpur
- Art-Aid Exhibition, The New Straits Times, Kuala Lumpur.
- Art Salon's First 12 months, Kuala Lumpur
- Komunikasi Melalui Grafik-Senicetak,
National Art Gallery, Kuala Lumpur.
1992
- RATT-HELP Art Exhibition, Kuala Lumpur
- Open Art Show, National Art Gallery,
Kuala Lumpur.
- Contact in Prints, Galeri Citra, Kuala Lumpur & Galeri
Shah Alam, Selangor.
1991
- Salon Malaysia, National Art Gallery, Kuala Lumpur
- Pameran Muhibbah -
12 for Bandung, Galeri Citra, Kuala Lumpur
- Pameran Terbuka '91, Galeri
Shah Alam, Selangor
- 33 years after..., Regent Hotel, Kuala Lumpur
-
Pameran Identiti, National Art Gallery, Kuala Lumpur.
1989
- Post-Seoul International Art Show, Pusat Kreatif, Kuala Lumpur
1988
- Open Art Show, National Art Gallery, Kuala Lumpur
- Post-Fukuoka Art Show,
National Art Gallery, Kuala Lumpur
- Pameran Motivasi, Malayan Banking Gallery,
Kuala Lumpur
1987
- Open Art Show, National Art Gallery, Kuala Lumpur
- Tasik Chini Art Show,
Australian High Commission, Kuala Lumpur
- Invitation Show, Bank Negara, Kuala
Lumpur
- Inspirasi Pahang, Australian High Commission, Kuala Lumpur.
-
Malaysia Art 57-87, National Art Gallery, Kuala Lumpur.
1986
- Young Contemporary Art Show, National Art Show, Kuala Lumpur
1985
- Young Contemporary Art Show, National Art Show, Kuala Lumpur
- Open Art
Show, National Art Gallery, Kuala Lumpur.
1983
- Perdana Art Show, University Malaya, Kuala Lumpur Young Contemporary Art Show,
National Art Gallery, Kuala Lumpur
AWARDS
/ ANUGERAH
1994
- Fellowship Program to study traditional woodblock print in Tokyo under the tutelage
of Mr. Yoshisuke Funasaka, awarded by Japan Foundation.
1993
- Research Grant for Printmaking in Paris awarded by the Government of France.
- 2nd. Asean Workshop, Symposium & Exhibition of Aesthetics, Manila, the Philippines
1991
- Major Award for Printmaking, Salon Malaysia 1991 National Art Gallery, Kuala
Lumpur.
1990
- Permodalan Nasional Berhad Award.
KENYATAAN ARTIS
Konsep
Akal Di Ulu
"Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu
pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur."
An
Nahl (Lebah) 16/78
'Agama
itu akal' - Sabda Nabi Muhammad S.A.W
Al-KINDI
(194-260H = 809-873M)
Orang
yang hendak mencapai kemerdekaan dan kekalahan itu, harus memperkembangkan kekuatan
akalnya dengan jalan ilmu ketuhanan dan pengetahuan tentang alam semesta.
Jiwa
seseorang dinamakan sebagai NAFS. Ia juga dikenali sebagai Jauhar-E-Aqli (Akal
Sejati). Ia tidak berbentuk benda / material dan tidak pula merasa derita. Sumbernya
adalah dari jiwa bumi yang menjelma ke dalam perasaan. Kerana itu ia mempunyai
dua sudut, yang satu condong kepada kebendaan. Inilah yang menyebabkan kegiatan
seseorang hendak mencari material. Di suatu sudut lain ia condong kepada asalnya.
Sudut kebendaan ini mempunyai kehendak untuk melahirkan sesuatu. Inilah yang menimbulkan
susah dan senang, suka dan duka. Kerana itu, jiwa adalah akal sejati dan sebahagian
dalam tubuh dan sebahagian lagi terletak di luar tubuh. Yang di luar adalah menjadi
alat akal, yang menampakkan dirinya dengan perantaraan NAFS. Ia bergerak dalam
alam perasaan.
Selanjutnya,
Al-Kindi membahagikan akal kepada tiga tingkat :
i)
AQLI-I-HALUYANI, maksudnya ialah akal pemberian Tuhan. Dengan akal ini orang dapat
mengetahui tentang jasmani dengan mempergunakan otak, menentukan berbagai kejadian
baik dan buruk. Aristoles menyebut ini sebagai 'common-sense'- akal biasa.
ii)
AQL-BIL-FI-IL, iaitu akal aktif. Dengan akal ini, orang memperolehi pengetahun
tentang sesuatu untuk dikerjakan.
iii)
AQL-I-FA'AL, iaitu bekerja. Akal ini memimpin sseorang untuk melakukan sesuatu,
bahagian ketiga ini menjadi satu dengan yang kedua, kalau ia bertindak ke atas
sesuatu.
IBNU SINA (AVICENNA) 370-428H = 980-1037M
Dasar
Pokok - Allah
Akal Pertama - Mengetahui sari nyawa dan sumber nyawa
Akal
Kedua - (a) Jiwa (b) Tubuh yang terdiri dalam sembilan daerah. Sendi akal kedua
ini terdiri atas (a) wajib
(b) mukmin
Akal Ketiga - (a) Jiwa (b) Tubuh
yang dipengaruhi alam, terutama Bintang Saturnus. Bersendikan pula atas (a) wajib
(b) mukmin
Menurut
Ibnu Sina, akal pertama dapat mencipta barang-barang baik, yang disukainya. Akal
kedua adalah pengetahuan ketuhanan, yang menentukan kebaikan. Akal ketiga adalah
fikiran ketuhanan untuk memperoleh atau menghasilkan kebaikan.
HULU
DAN PENGERTIANNYA
Hulu
- Sesuatu yang dimisalkan kepala, gagang, pangkal
Hulu Sungai - Punca air
sungai, sumber air sungai
Hulubalang - Kepala perang, kepala perajurit
Hulu - Sesuatu yang berada jauh atau di atas
Ulu - Kepala (bahasa dalam/bahasa
istana)
Disediakan
oleh :
Juhari
Said
Akal
Di Ulu
28 Ogos 2001
KONSEP
AKAL DI ULU
Berjiran
dengan monyet, biawak , ular dan babi hutan? Itulah yang dialami Juhari Said,
perupa senicetak Malaysia yang berjiwa kampung tetapi bermentaliti global. Bergebang-gebang
('gebang' ialah longhat Perak untuk 'sembang') mengenai konsep kediamannya yang
bernama Akal Di Ulu yang dibina di atas tanah berkeluasan empat setengah ekar
di Hulu Langat kira-kira tiga setengah tahun lalu, Juhari telah menyuntik semangat
baru kepada lebih kurang 40 peserta jemputan khas acara "Gebang Seni"
anjuran Yayasan Kesenian Perak pada 27 Mei 2002. Program bulanan ini bertujuan
untuk menjana budaya berdiskusi,berinteraksi dan berkongsi pengalaman sesama seniman,
pelajar serta pencinta seni dalam keadaan yang amat santai dan impromptu.
Juhari
Said dilahirkan pada tanggal 6 Januari 1961 di Gopeng, Perak. Beliau telah menerima
pendidikan seni dari Universiti Teknologi MARA (UiTM) antara tahun 1979 dan 1983.
Sejak awal lagi, Juhari telah cenderung ke arah senicetak dan telah menumpukan
sepenuh tenaga dan masa kepada aspek seni ini. Pernah menerima
anugerah
utama bagi kategori senicetak sempena pertandingan Salon Malaysia pada tahun 1991,
anugerah Permodalan Nasional Berhad pada tahun 1990 dan turut menerima gran pengkajian
(research grant) untuk senicetak di Paris oleh Kerajaan Peranchis pada tahun 1993.
Pada tahun 1994 sekali lagi beliau diberi peluang oleh Japan Foundation untuk
mengikuti program mempelajari senicetak kayu tradisional di Tokyo, Jepun.
Menyentuh
sedikit definisi Akal di Ulu, seniman ini ternyata bukan memilih nama tersebut
secara sembrono tetapi melalui kajian dan teori yang membawa maksud yang sangat
dalam. Dengan merujuk kepada ahli falsafah Ibnu Sina (Avicenna) 370-428Hijrah,
perkataan AKAL dikategorikan kepada tiga peringkat. Akal pertama ialah "mengetahui
sari dan sumber nyawa", akal kedua ialah "I)Jiwa dan II)Tubuh yang terdiri
dalam sembilan daerah. Sendi akal kedua ini terdiri atas I)Wajib dan II)Mukmin.
Manakala akal ketiga merupakan "I)Jiwa dan II)Tubuh yang dipengaruhi alam,
terutama bintang Saturnus, bersendikan pula atas I)Wajib dan II)Mukmin."
Menurut Ibnu Sina, "akal pertama dapat mencipta barang-barang baik yang disukainya.
Akal kedua;adalah pengetahuan ketuhanan yang menentukan kebaikan. Akal ketiga
adalah fikiran ketuhanan untuk memperoleh atau menghasilkan kebaikan."
Pengertian
perkataan HULU pula dipecahkan kepada beberapa bahagian seperti I)sesuatu yang
dimisalkan kepala, gagang atau pangkal;contohnya HULU SUNGAI bermaksud punca atau
sumber air sungai, HULUBALANG membawa erti kepala perang, kepala perajurit dan
HULU juga bermaksud sesuatu yang berada jauh atau di atas. Dan akhirnya disandang
dengan bahasa dalam/istana, perkataan ULU yang bermaksud kepala telah dipilih.
Maka jadilah AKAL DI ULU Juhari Said.
Dengan
gaya kebiasaannya yang santai dan sedikit contengan di whiteboard, Juhari telah
berjaya membawa khalayaknya berimajinasi tentang bentuk dan isi di sebalik konsep
Akal Di Ulu,sebuah Pusat Sumber Seni Cetak yang mengambil kira-kira 30 minit perjalanan
dari Kuala Lumpur, yang sedang diperkembangkan untuk kegunaan para pelajar seni
dan teman- teman seniman seluruh dunia. Dengan pengunjung yang terdiri daripada
tokoh-tokoh seperti Baha Zain, Latiff Mohidin, Wairah Marzuki serta para perupa
sohor dari dalam dan luar negara, yang kerap dijamu juadah ubi kayu dan sukun
(lapan resipi katanya), sudah tentu Juhari berhak untuk 'menunjuk-nunjuk' dan
berkongsi pengalaman bagaimana beliau tergerak untuk mewujudkan tempat yang begitu
berseni dan istimewa.
Pengalaman
bermusafir ke luar negara telah banyak memberi inspirasi kepada beliau untuk menghidupkan
satu persekitaran sesuai dengan kehendak kebanyakan perupa; suasana nyaman, tenang
dan jauh dari ancaman serta godaan hiruk pikuk kota. Bertemu dengan seniman di
negara-negara luar, beliau merasa kagum dengan cara mereka menonjolkan identiti
melalui konsep kediaman dan bukan dengan ghairah menyuakan katalog dan biodata
masing-masing semasa salam perkenalan. Kediaman mereka sesungguhnya melambangkan
jatidiri seni mereka sebenar.
Dengan
semangat berkobar-kobar, Juhari lantas nekad melaburkan sebahagian besar wang
simpanan beliau untuk menaikkan sebuah teratak seni yang user-friendly dengan
binaan ruang dapur sebagai laluan masuk bagi senior citizen serta tangga bertingkat
di bahagian tepi rumah khas untuk mereka yang lebih bertenaga dan adventurous
turun ke dasar bukit. Pelaksanaan idea ini dimotivasikan oleh harapan beliau untuk
membantu menjana minat dan peluang di kalangan para pelukis dan pelajar meraih
ilmu dan pengalaman khususnya dalam bidang senicetak. Tidak jauh dari rumahnya,
Juhari telah menyediakan sebuah studio yang lengkap dengan peralatan dan mesin-mesin
cetak untuk dimanfaatkan oleh pengunjung yang berminat.
Walau
pun ramai seniman terkenal tanahair, antaranya Allahyarham Ahmad Khalid Yusuf,
Latiff Mohidin,Lee Kian Seng, Long Thien Shih, Sulaiman Esa dan lain-lain mendapat
pendidikan formal senicetak dari luar negara, mereka tidak menjadikan senicetak
sebagai karya utama dalam aktiviti seni mereka. Malahan sesetengah dari seniman
hanya memandang golongan seniman senicetak dengan sebelah mata atau sebagai 2nd
class citizen. Juhari menganggap ia jadi begitu kerana kedangkalan ilmu serta
kedaifan tentang sejarah dan perkembangan senicetak yang berkembang pesat di luar
negeri seperti Peranchis, Jepun dan Negara Eropah lain. Oleh kerana itu, sebagai
pempraktis senicetak kontemporari, Juhari merasakan bahawa beliau berkewajipan
untuk membantu menyumbang tenaga serta pengetahuan kepada generasi selepasnya
agar senicetak akan terus mendapat tempat di dalam senario seni rupa tanahair.
Baru-baru
ini beliau telah melapangkan masa dan ruang untuk bersama-sama sekumpulan kanak-kanak
sempena lawatan seni anjuran Unit Pendidikan Seni, Balai Seni Lukis Negara . Jadual
asal untuk melukis selama lima jam telah terpendek setakat 45 minit sahaja kerana
ternyata anak-anak bandar yang terlibat tidak mahu melepaskan peluang merasai
pengalaman yang menggembirakan; terjun ke dalam sungai yang hanya 50 meter dari
rumahnya, memanjat pokok buah-buahan, meredah reban ayam menyaksikan ayam mengeram
telur dan makan burger berbungkus daun pisang! Urbanisasi yang melampau sesungguhnya
telah merugikan anak-anak masakini kerana mereka secara tidak langsung terlepas
peluang merasai 'penangan alam' yang memainkan peranan penting membentuk jiwa-jiwa
seni yang asli dan kembali ke akar. Pendedahan berkaitan alam semulajadi harus
selaras dengan informasi tentang teknologi supaya perkembangan minda kanak-kanak
ini menjadi lebih sihat dan berinovasi.
Peserta
'Gebang Seni' juga diberi falsafah yang sangat bermakna bila mana beliau menyatakan
bahawa "kesempurnaan bukanlah satu kriteria untuk sesuatu yang indah".
Juhari memberi contoh fizikal seorang manusia yang dianggap tampan atau cantik
yang tidak semestinya sempurna secara simetrikal panjang pendek kakinya, besar
kecil telinganya, luas sepet matanya. Hal ini merujuk kepada kegemaran beliau
terhadap garisan yang tidak lurus, seperti juga tiang-tiang rumahnya yang tidak
sama rata untuk memberi kesan nature yang dikomplimen dengan seni lanskap hasil
kreativiti beliau sendiri. Bagi taman di rumah Juhari, tanah itu adalah kanvas
atau kertas putih, bunga itu adalah medium atau warna dan cangkul itu adalah berus.
Sebagai seorang yang berjiwa seni, estetik persekitaran tetap penting untuk memberi
kedamaian serta keselesaan jiwa dan minda.
Di
Indonesia kita mungkin pernah mendengar keunikan kediaman artis-artis mereka seperti
Affandi, Djoko Pekik, Srihadi, dan H.Widayat. Di Thailand tersergam indah rumah
seniman Thavorn Ko-Udomvit dan Thavorn Duchenee. Di Afrika Selatan mereka mungkin
gah dengan kediaman perupa mereka Willie Bester. Nah! Di Malaysia kita kini boleh
berbangga dengan kediaman seniman senicetak kontemporari Juhari Said - AKAL DI
ULU